Showing posts with label KIE. Show all posts
Showing posts with label KIE. Show all posts

Saturday, June 22, 2013

Komunikasi Informasi Edukasi




Pelayanan kefarmasian pada saat ini telah bergeser orientasinya dari obat ke pasien yang mengacu kepada Pharmaceutical Care. Kegiatan pelayanan kefarmasian yang semula hanya berfokus pada pengelolaan obat sebagai komoditi menjadi pelayanan yang komprehensif yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dari pasien (Depkes RI, 2004). Pelayanan Kefarmasian (Pharmaceutical Care) adalah suatu tanggung jawab profesi dari apoteker untuk mengoptimalkan terapi dengan cara mencegah dan memecahkan masalah terkait obat (Drug Related Problems) (Depkes RI, 2006).
Sebagai konsekuensi perubahan orientasi tersebut, apoteker dituntut untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan perilaku agar dapat melaksanakan interaksi langsung dengan pasien (Depkes RI, 2004). Salah satu interaksi antara apoteker dengan pasien melalui konseling obat, konseling obat sebagai salah satu metode edukasi pengobatan secara tatap muka atau wawancara merupakan usaha untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pasien dalam penggunaan obat (Depkes RI, 2006).
Menurut KEPMENKES RI Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 tentang Standa Pelayanan Kefarmasian di Apotek, konseling adalah suatu proses komunikasi dua arah yang sistematik antara apoteker dan pasien untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan obat dan pengobatan (Depkes RI, 2004).
Di dalam prakteknya, konseling obat melakukan penyampaian dan penyediaan nasehat-nasehat yang berkaitan dengan obat, yang didalamnya terdapat implikasi diskusi timbal balik dan tukar menukar opini. Dengan adanya konseling obat diharapkan pasien mendapatkan pengetahuan dan pemahaman pasien dalam penggunaan obat sehingga berdampak pada kepatuhan pengobatan dan keberhasilan dalam proses penyembuhan penyakitnya (Depkes RI, 2006).
Melalui konseling, apoteker dapat menyelidiki kebutuhan pasien saat ini dan akan datang. Apoteker dapat menemukan apa yang perlu diketahui oleh pasien, keterampilan apa yang perlu dikembangkan dalam diri pasien, dan masalah yang perlu diatasi. Untuk memberikan konseling obat yang benar terhadap pasien mengenai obat, Apoteker diwajibkan untuk memiliki beberapa sumber informasi. Sumber infomasi yang digunakan bisa berasal dari pustaka, media cetak, dan internet. Sumber informasi obat meliputi antara lain dokumen, fasilitas,lembaga dan manusia. Sedangkan dalam praktiknya sumber informasi obat digolongkan menjadi tiga macam yaitu sumber informasi primer, sumber informasi sekunder dan sumber informasi tersier.  Adapun tujuan umum  dilakukannya  konseling, yaitu meningkatkan keberhasilan terapi; memaksimalkan efek terapi; meminimalkan resiko efek samping; meningkatkan cost effectiveness; dan menghormati pilihan pasien dalam menjalankan terapi. Tujuan khusus dilakukannya konseling, yaitu : meningkatkan hubungan kepercayaan antara apoteker dengan pasien; menunjukkan perhatian serta kepedulian terhadap pasien; meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan; mencegah atau meminimalkan Drug Related Problems dan membimbing dan mendidik pasien dalam menggunakan obat sehingga dapat mencapai tujuan pengobatan dan meningkatkan mutu pengobatan pasien.
(Depkes RI, 2006)

KIE Intoleransi laktosa



 
  1. Melakukan pendekatan terapeutik dengan cara menyapa klien, memberi salam dan mendengarkan semua keluhan ibu pasien.
  2. Diskusikan dengan pasien mengenai cara-cara pencegahan dan penatalaksanaan diare secara tepat (Pramudianto dkk, 2009).
  3. Menyarankan pemberian oralit sebagai pengganti cairan tubuh, Lacto-B® sebagai probiotik dan suplemen Zink digunakan sebab ketika diare kadar zink dalam tubuh akan menurun (Sweetman, 2009).
  4. Intruksikan pasien untuk menggunakan obat dengan sesuai, seperti nama obat, dosis, frekuensi pemberian, cara penggunaannya, dan lain-lain (Pramudianto dkk, 2009). Oralit untuk anak diberikan dengan dosis 200 mg dimana dalam pemakaiannya terlebih dahulu dilarutkan dalam 200 mL air masak dan digunakan setiap habis buang air besar sampai diare berhenti (Sweetman, 2009). Lacto-B® diminum 3 sachet/ hari sampai diare berhenti (Pramudianto dkk, 2009; ISFI, 2010). Lacto-B® dapat diberikan bersamaan dengan makanan bayi, dan susu formula (Pramudianto, 2009 ; Sukandar dkk.,2009). Lacto-B® dapat pula diberikan bersama jus ataupun air (Wells, Barbara G. et al, 2009). Suplemen Zink diminum 10-20 mg per hari selama 14 hari (Sweetman, 2009). Suplemen zink dapat diberikan bersamaan dengan makanan, namun dihindari makanan tinggi kalsium, fosfor, atau  phytate (Lacy et al, 2004).
  5. Informasikan pada pasien tentang kemungkinan efek samping dari beberapa obat yang diberikan (Pramudianto dkk, 2009). Muntah dapat terjadi setelah oralit dan mungkin ini merupakan indikasi bahwa oralit diberikan terlalu cepat. Jika terjadi muntah, pemberian dihentikan 10 menit kemudian diberikan dalam dosis yang lebih kecil dan sering (Sweetman, 2009). Gunakan zink sesuai petunjuk, jangan gunakan lebih dari yang direkomendasikan. Hentikan penggunaan zink jika mengalami mual dan muntah atau gangguan pencernaan akut, memar atau mudah perdarahan, pusing terus-menerus, atau kesulitan pernafasan yang tidak biasa (Lacy et al, 2004).
  6. Oralit harus direkonstitusi dengan air pada volume yang telah ditentukan. Larutan oralit yang telah dibuat tidak boleh direbus. Bahan lain seperti gula tidak boleh ditambahkan. Larutan yang belum digunakan dapat disimpan di kulkas dan harus dibuang setelah 24 jam dari waktu pembuatan (Sweetman, 2009).
  7. Anak-anak mungkin mengalami intoleransi laktosa (tidak dapat mencerna laktosa dalam susu) beberapa saat setelah sembuh dari diare. Pada kondisi ini, pemberian susu sebaiknya dilakukan secara bertahap (Pramudianto dkk, 2009).
  8. Setelah 24 jam, berikan makan-makanan lembut, atau makanan kering. Hindari buah-buahan dan sayuran serta jenis gandum. Makanan berlemak dan produk susu dapat dikonsumsi setelah 48 jam kemudian (Pramudianto dkk, 2009).
  9. Jangan membeli dan mengkonsumsi makanan dan minuman dari tempat yang kurang terjamin kebersihannya (Pramudianto dkk, 2009).
  10. Mencegah penularan bakteri penyebab diare dengan mencuci tangan setelah BAB, sebelum makan, atau saat menyiapkan makanan (Pramudianto dkk, 2009).
  11. Jika kondisi pasien tidak juga membaik, segera konsultasi ke dokter.
  12. Semoga pasien lekas sembuh.