Showing posts with label Informasi obat. Show all posts
Showing posts with label Informasi obat. Show all posts

Saturday, June 22, 2013

Informasi Obat dan Sumber Informasi Obat



Berikut ini merupakan pengertian dan contoh informasi obat dan sumber informasi obat. Semoga bermanfaat ya! ^_^
Informasi obat adalah setiap data atau pengetahuan objektif, diuraikan secara ilmiah dan terdokumentasi mencakup farmakologi, toksikologi dan penggunaan terapi dari obat. Informasi obat mencakup, tetapi tidak terbatas pada pengetahuan, seperti nama kimia, struktur dan sifat-sifat, identifikasi, indikasi, diagnosis atau indikasi terapi, ketersediaan hayati, bioekivalen, toksisitas, mekanisme kerja, waktu mulai bekerja dan durasi kerja, dosis dan jadwal pemberian, dosis yang direkomendasikan, konsumsi, absorpsi, metabolism, detoksifikasi, ekskresi, efek samping, reaksi merugikan, kontraindikasi, interaksi, harga, keuntungan, tanda, gejala, dan pengobatan toksisitas, efikasi klinik, data komparatif, data klinik, data penggunaan obat, dan setiap informasilain yang berguna dalam diagnosis, dan pengobatan penderita dengan obat. Informasi obat tidak termasuk bahan iklan, rincian informasi obat dari PFF, kesan klinik, pelaporan, seperti jenis “kesaksian”, pengendalian inventarisasi, atau informasi pembelian (Siregar dan Lia, 2003).
Sumber informasi obat mencakup dokumen, fasilitas, lembaga, dan manusia. Dokumen mencakup pustaka farmasi dan kedokteran, terdiri atas majalaj ilmiah, buku teks, laporan penelitian, dan farmakope. Fasilitas mencakup fasilitas ruangan, peralatan, computer, internet, perpustakaan dan lain-lain. Lembaga mencakup industri farmasi, Badan POM, pusat informasi obat, pendidikan tinggi farmasi, organisasi profesi dokter dan apoteker. Manusia mencakup dokter, dokter gigi, perawat, apoteker, dan profesional kesehatan lainnya di rumah sakit. Apoteker yang mengadakan pelayanan informasi obat harus mempelajari juga cara terbaik menggunakan berbagai sumber tersebut. Pustaka obat digolongkan dalam empat kategori, yaitu 1) pustaka primer, 2) pustaka sekunder, 3) pustaka tersier, dan 4) sumber lain (Siregar dan Lia, 2003).
Sumber pustaka primer adalah artikel orisinil yang dipublikasikan atau yang tidak dipublikasikan penulis atau peneliti, yang memperkenalkan pengetahuan baru atau peningkatan pengetahuan yang telah ada tentang suatu persoalan. Sumber pustaka primer ini termasuk hasil penelitian, laporan kasus, juga studi evaluatif, dan laporan deskriptif. Pustaka primer memberikan dasar untuk pustaka sekunder dan tersier. Artikel dalam majalah ilmiah adalah yang paling sering disebut sebagai contoh sumber pustaka primer, walaupun semua artikel dalam majalah ilmiah bukan merupakan sumber pustaka primer. Contoh pustaka primer lain termasuk prosiding seminar, buku catatan laboratorium, korespondensi, seperti surat dan memo, tesis, disertasi, dan laporan teknis (Siregar dan Lia, 2003).
Sumber pustaka primer memberikan informasi paling mutakhir tentang pokok tertentu pada waktu tertentu karena karya itu merupakan refleksi pengamatan penulis saja, hasilnya tidak diinterpretasikan. Keterbatasan utama dari sumber pustaka primer adalah ketidakpraktisan. Dalam pustaka primer, seseorang tidak dapat secara efisien mencari informasi khusus, kecuali orang itu memiliki pengetahuan yang dalam tentang organisasi dan jenis pustaka. Dalam banyak situasi, apoteker harus menelusur kembali pustaka primer untuk menjawab suatu pertanyaan spesifik penderita. Kemampuan dalam hal penelusuran kembali dan interpretasi pustaka primer memerlukan pengalaman melalui praktik yang terus-menerus. Satu cara agar apoteker terbuka kepada pustaka primer adalah membaca sendiri. Semua apoteker harus memenuhi suatu komitmen profesional, yaitu tetap mutakhir. Salah satu mekanisme untuk untuk mencapai hal tersebut adalah membaca majalah ilmiah secara tetap. Ada dua contoh pertanyaan informasi obat tertentu yang sering timbul di rumah sakit, yaitu tentang penggunaan obat baru dari obat yang dipasarkan atau obat yang baru-baru ini dilaporkan menimbulkan efek merugikan. Penggunaan pustaka primer sering  kali perlu untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut (Siregar dan Lia, 2003). Contoh beberapa sumber informasi primer: Annals of Pharmacotherapy, British Medical Journal, Journal of American Medical Association (JAMA), Journal of Pediatrics, New England Journal of Medicine (Siregar dan Endang, 2006).
Pustaka sekunder memuat berbagi abstrak, yang merupakan sistem penelusuran kembali untuk pustaka primer dan digunakan untuk menemukan artikel pustaka primer. Informasi yang diperoleh dari pustaka sekunder tersendiri jarang digunakan untuk keputusan klinik. Dengan pustaka sekunder, memungkinkan paoteker memasuki multi sumber informasi secara cepat dan efisien. Informasi dalam pustaka sekunder dikatagorikan atau diindekskan dan diabstrak dari sumber pustaka primer. Dalam tahun-tahun akhir ini, sumber ini terutama telah dapat diperoleh melalui penelusuran komputer. Sumber informasi sekunder adalah rumit dan sering memerlukan pelatihan tambahan untuk penggunaannya (Siregar dan Lia, 2003). Contoh beberapa sumber informasi sekunder: Inpharma, International Pharmaceutical Abstract (IPA), Medline, Pharmline (Kurniawan dan Chabib, 2010).
Pustaka tersier biasanya dikaitkan dengan buku teks atau acuan umum. Sumber ini menyoroti data yang diterima secara luas dari pustaka primer; mengevaluasi informasi ini dan menerbitkan hasilnya. Sumber pustaka tersier termasuk buku teks atau “data base”, kajian artikel, kompendia, dan pedoman praktis. Sumber pustaka tersier adalah acuan pustaka yang paling umum digunakan, mudah dimasuki, dan biasanya dapat memenuhi kebanyakan permintaan informasi obat spesifik penderita. Lagipula, sumber tersier memberikan informasi yang disusun dan dievaluasi dari acuan pustaka yang banyak dan dinyatakan dalam suatu cara yang praktis. Karena banyak ahli memberi kontribusi pada sumber ini, penggunaan dan interpretasi informasi diperkaya (Siregar dan Lia, 2003).
Keterbatasan utama dari pustaka tersier adalah ketinggalan waktu beberapa bulan bahkan sampai mungkin beberapa tahun. Apabila informasi atau pandangan paling mutakhir dibutuhkan, diperlukan sumber pustaka sekunder dan primer. Seoran penulis mempunyai hak prerogative untuk memasukkan atau mengeluarkan informasi sehingga tidak semua bagian dari pustaka primer perlu menjadi bagian dari pustaka tersier. Informasi dalam sumber pustaka tersier mencerminkan pandangan dari penulis yang dapat menghasilkan salah interpretasi dari pustaka primer, dan melalui ketidaksetujuan (Siregar dan Lia, 2003). Contoh beberapa sumber informasi tersier: Textbook of Advers Reactions, Drug Information full text, Handbook of Clinical Drug Data, Drug Facts and Comparison, dan AHFS DI (Siregar dan Endang, 2006).
Pada umumnya, sumber pustaka primer mengandung informasi yang paling mutakhir, sedang pustaka sekunder dan tersier karena mengandung abstrak dan acuan dari sumber primer, mempunyai informasi yang kurang mutakhir. Sumber pustaka sekunder dan tersier, kemungkinan kurang akurat atau kurang dapat dipercaya karena informasi dalam kedua sumber tersebut dibuat melalui transformasi oleh berbagai penulis dan / atau penerbit, guna mencapai format yang diperlukan (Siregar dan Lia, 2003).
Sumber informasi lain mencakup sumber yang tidak termasuk kategori pustaka primer, sekunder, atau tersier; misalnya, komunikasi dengan tenaga ahli, manufaktur, dan brosur penelitian. Komunikasi tenaga ahli terdiri atas informasi yang tidak dipublikasikan yang diperoleh khusus dari seorang tenaga ahli. Komunikasi ini dapat merupakan suatu pendapat didasarkan pada pengalaman tenaga ahli tersebut atau berdasarkan data dari suatu studi evaluatif pendahuluan yang dipublikasikan (Siregar dan Lia, 2003).
Brosur penelitili, kadang-kadang berhubungan dengan suatu monografi penelitian, adalah informasi tentang obat investigasi. Industri farmasi tidak diperkenankan memberikan informasi umum tentang obat investigasi, tetapi mereka dapat memberikan monografi tentang zat aktif individu kepada peneliti yang melakukan penelitian tentang zat itu. Brosur ini mengandung sejumlah besar informasi tentang produk mencakup farmakologi, farmakokinetik, efek klinis yang diketahui, kejadian merugikan yang diketahui, dosis yang direkomendasikan, prosedur pemberian, persyaratan  penyimpanan, stabilitas dan pustaka (Siregar dan Endang, 2006).
Ingin tahu tentang vitamin K, buka saja All about Vitamin Kdan untuk obat batuk, bisa dilihat di zat-aktif-yang-berperan-sebagai-obat-batuk

Informasi Obat Diare




3.2.1 Oralit
v        Komposisi oralit 200
Glukosa anhidrat                     4 g
Natrium klorida                       0,7 g
Natrium sitrat hidrat               0,58 g
Kalium klorida                        0,3 g
Serbuk dilarutkan  dalam 200 ml atau 1 (satu) gelas air matang hangat.
(Pramudianto dkk, 2009; Sukandar dkk., 2009; ISFI, 2010)
v        Indikasi
Pengganti elektrolit dan cairan tubuh pada pasien dengan dehidrasi, yang terutama berhubungan dengan diare akut dengan berbagai sebab (Sweetman, 2009). 


v        Kontra Indikasi
Tidak diberikan pada pasien dengan obstruksi gastrointestinal, oliguria (berkurangnya volume urin), dan anuria (tidak adanya produksi urin) (Sweetman, 2009).
v        Efek Samping
Muntah dapat terjadi setelah pemberian oralit dan mungkin ini merupakan indikasi bahwa oralit diberikan terlalu cepat. Jika terjadi muntah, pemberian dihentikan 10 menit kemudian diberikan dalam dosis yang lebih kecil dan sering. Overdosis dari oralit pada pasien dengan penurunan fungsi ginjal dapat menyebabkan hypernataraemia dan hyperkalaemia (Sweetman, 2009).
v        Dosis
Sesuai keadaan (berat badan dan tingkat keparahan kondisi).
§  Untuk dewasa 200-400 ml setiap habis buang air besar.
§  Untuk anak-anak 200 ml setiap habis buang air besar.
(Sweetman, 2009).
3.2.2 Lacto-B®
v        Komposisi
Lactobacillus acidop hilus bifidobacterium longun
Steptococcus faeeium 1 x 107 CFU/g.
                        Vitamin C 10 mg
                        Vitamin B 0,5 mg
                        Vitamin B2 0,5 mg
                        Vitamin B5 0,5 mg
                        Niacin 2 mg
                        Protein 0,02 mg
Fat 0,1 g/ sachet
(Pramudianto dkk, 2009; Sukandar dkk., 2009; ISFI, 2010)



v        Indikasi
Mengurangi frekuensi feses dan durasi penyakit pada anak dengan diare infeksi akut (Sweetman, 2009). Pengobatan diare dan pencegahan intoleransi laktosa  (Pramudianto dkk., 2009; Sukandar dkk.,2009).
v        Dosis
§  Anak 1-6 tahun : 3 sachet/ hari (Pramudianto dkk, 2009; ISFI, 2010)
§  Dewasa             : 1 sachet 3-4 kali sehari (Wells, Barbara G. et al, 2009)
v        Informasi khusus :
Dapat diberikan bersamaan dengan makanan bayi, dan susu formula (Pramudianto, 2009 ; Sukandar dkk.,2009). Dapat pula diberikan bersama susu, jus, ataupun air (Wells, Barbara G. et al, 2009).

3.2.3 Zink
Zink merupakan unsur penting dari nutrisi dan berada dalam berbagai macam makanan. Zink merupakan konstituen dari banyak sistem enzim dan ada di semua jaringan. Kekurangan zink dapat menyebabkan keterlambatan pertumbuhan dan kerusakan dari pembelahan jaringan secara cepat seperti kulit, sistem kekebalan tubuh, dan mukosa usus (Sweetman, 2009).
Diare kronis bisa menjadi tanda kekurangan zink. Diare dapat menyebabkan  kehilangan zink dan kekurangan zink dapat terjadi ketika makanan yang mengandung zink tidak memadai. Suplemen zink telah terbukti mengurangi timbulnya intensitas atau durasi diare akut pada anak di negara berkembang, efek menguntungkan dari suplemen zink juga telah terlihat untuk diare persisten. Sebuah laporan dari WHO menyimpulkan bahwa pemberian suplemen zink pada dosis sekitar 10 sampai 20 mg sehari selama 14 hari merupakan cara yang manjur dalam mengurangi secara signifikan keparahan dan durasi diare, jenis dari garam zink tidak mempengaruhi kemanjuran, meskipun formulasi terbaik harus ditentukan untuk mengurangi dampak seperti mual. Sebuah laporan lebih lanjut menyimpulkan bahwa ada cukup bukti untuk merekomendasikan dimasukkannya zink sebagai terapi penunjang untuk oralit dalam pengelolaan standar diare akut disentri dan non-disentri (Sweetman, 2009).
v        Indikasi  
Zink dalam bentuk garamnya digunakan sebagai suplemen untuk mengobati kekurangan zink, misalnya, dalam sindrom malabsorpsi, selama pemberian makanan dengan cara parenteral, dalam kondisi trauma, luka bakar, kehilangan protein dan dalam acrodermatitis enteropathica (kelainan genetik langka yang ditandai dengan defisiensi zink berat). Digunakan pula dalam penanganan diare, pneumonia, keterlambatan pertumbuhan, kehamilan, gangguan pengecapan, dan defisiensi vitamin A (Sweetman, 2009).
v        Efek samping
Efek yang paling sering ditimbulkan  dari penggunaan garam zink (glukonat dan sulfat) yang diberikan secara oral adalah pada gastrointestinal seperti sakit perut, dispepsia, mual, muntah, diare, iritasi lambung, dan gastritis. Ini sangat umum jika garam zink yang diberikan pada keadaan perut kosong. Efek ini dapat dikurangi dengan menggunakan zink bersama dengan makanan. Dalam keadaan overdosis akut, garam zink bersifat korosif karena pembentukan klorida zink dengan asam lambung, pengobatan terdiri dari memberikan susu atau alkali karbonat dan arang aktif, dihindari penggunaan perangsang muntah. Penggunaan dosis tinggi suplemen zink secara berkepanjangan, secara langsung atau parenteral, menyebabkan defisiensi tembaga dengan terkait sideroblastic anemia dan neutropenia (Sweetman, 2009).
v        Mekanisme obat
Digunakan untuk pertumbuhan normal dan memperbaiki jaringan; kofaktor untuk lebih dari 70 enzim yang penting untuk metabolisme karbohidrat dan protein, membantu untuk menjaga pertumbuhan dan jaringan yang normal, hidrasi kulit normal, dan indra pengecap dan penciuman; pada penyakit Wilson, kation zink menghambat penyerapan tembaga dari makanan dengan menginduksi sintesis metallothionein, protein pengikat logam ada dalam mukosa usus yang dapat mengikat logam, termasuk tembaga, membentuk senyawa beracun yang tidak diserap secara sistematis tetapi diekskresikan dalam tinja; astringen mata dan zat antiseptik lemah akibat pengendapan protein dan pembersihan lendir dari permukaan luar mata (Lacy et al, 2004).
v Dosis
RDA:  Bayi < 12 bulan               : 5 mg zink/ hari
            Anak-anak 1-10 tahun     : 10 mg zink/hari
            Dewasa: Laki-laki            :15 mg zink/hari
                                       Perempuan        : 12 mg zink/hari
                                                                                                 (Lacy et al, 2004)
Diare pada anak-anak 10 sampai 20 mg sehari selama 14 hari (Sweetman, 2009).
v        Interaksi obat
Penyerapan zink dapat berkurang dengan adanya suplemen zat besi, penisilamin, fosfor, dan tetrasiklin. Suplemen zink mengurangi penyerapan tembaga, fluoroquinolones, besi, penisilamin, dan tetrasiklin (Sweetman, 2009).
v        Farmakokinetik/ Farmakodinamik
Penyerapan zink pada saluran pencernaan tidak lengkap dan berkurang dengan adanya beberapa konstituen seperti phytates. Phytates hadir dalam sereal, jagung, kacang, dan beras, menghambat penyerapan zink. Protein hewani dalam daging sapi, telur, dan keju melawan efek penghambatan phytates, sedangkan kasein dalam susu mengurangi penyerapan zink. Protein juga sering mengandung unsur lain seperti anorganik fosfat yang negatif dapat mempengaruhi absorpsi. Bioavailabilitas zink disebutkan bervariasi antara sumber yang berbeda, tetapi dinyatakan berkisar 20-30%. Zink didistribusikan ke seluruh tubuh dengan konsentrasi tertinggi ditemukan di otot, tulang, kulit, mata, dan cairan prostat. Zink terutama diekskresikan dalam kotoran, dan pengaturan kehilangan feses adalah penting dalam homoeostasis zink. Sejumlah kecil zink hilang dalam urin dan keringat (Sweetman, 2009).

v        Kontraindikasi
Pasien yang hipersensitif terhadap garam zink dan komponen lainnya (Lacy et al, 2004)
v        Ketersediaan bentuk sediaan
Lozenge, kapsul, tablet, injeksi, sirup, gum (Lacy et al, 2004).
v        Informasi pasien
Gunakan sesuai petunjuk, jangan gunakan lebih dari yang direkomendasikan. Gunakan bersama makanan, namun hindari makanan tinggi kalsium, fosfor, atau phytate. Hentikan penggunaan obat jika mengalami mual dan muntah atau gangguan pencernaan akut, memar atau mudah perdarahan, pusing terus-menerus, atau kesulitan pernafasan yang tidak biasa (Lacy et al, 2004).